Kisah islamiah sore ini tentang asal muasal syariat islam
tentang penyembelihan hewan kurban.
Peringatan Hari Raya Idul Adha memang telah usai, dimana
pada hari itu agama islam mensyariatkan menyembelih hewan kurban pada tanggal
10 Zulhijjah selepas Shalat Idul Adha.
Penyembelihan hewan kurban ini memiliki kisah sendiri.
Kala itu Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih anaknya, namun Allah
SWT kemudian mengganti anak itu dengan seekor kambing.
Kisahnya.
Kisah ini sumbernya adalah Al Qur'an, Surat Ash-Shaffat
ayat 104-107.
Dikisahkan bahwa setelah Nabi Ibrahim as berpindah dari
negeri kaumnya, ia memohon kepada Allah SWT agar dikarunia seorang anak yang
saleh.
Doa Nabi Ibrahim as dikabulkan Allah SWT. Tak lama
kemudian istrinya, Hajar melahirkan seorang bayi mungil tampan rupawan yang
diberi nama Ismail.
Ketika Ismail lahir, Nabi Ibrahim as berusia 86 tahun.
Ismail inilah yang kemudian menggantikan peran ayahnya untuk menyiarkan agama
Allah.
Namun, Allah SWT tengah menguji kepasrahan dan kesabaran
Nabi Ibrahim as.
Pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi agar menyembelih
anaknya, Ismail. Sebanyak tiga kali mimpi, namun perintahnya juga sama,
menyembelih anak kesayangannya itu. Akhirnya Nabi Ibrahim yakin bahwa itu
merupakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan.
"Jika benar ini adalah perintah Allah, maka aku akan
pasrah dan sabar," yakinnya dalam hati.
Wahyu dari Allah SWT.
Selanjutnya Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya itu kepada
Ismail yang kala itu masih kecil. Ia ingin mendengar pertimbangan anaknya atas
perintah itu.
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa
aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" tanya Nabi Ibrahim.
Di luar dugaaan, sang anak bisa berbicara dan mengamini
perintah dalam mimpi ayahnya.
Ismail tidak merasa takut atau marah kepada ayah
kandungnya karena ia yakin mimpi itu merupakan wahyu Allah SWT.
"Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar," kata Ismail.
Keputusan Ismail itu dipilih sendiri dan bukan karena
paksaan seseorang. Kemudian Ismail tidak lupa meminta pertolongan kepada Allah
SWT agar ia diberi kesabaran. Saat itu Ismail tidak mengandalkan kekuatan yang
ada dalam dirinya, melainkan ia meminta kekuatan dari Allah SWT. Karena itu
juga, Allah SWT mencatat nama Ismail sebagai golongan nabi-nabi yang sabar.
Nabi Ibrahim semakin mantap menunjukkan kepasrahan dan
kesabarannya menjadi hamba Allah SWT. Di satu sisi, ia bersyukur karena juga
dikaruniai anak yang pasrah dan sabar.
Kemudian ayah dan anak itu pergi ke sebuah tempat yang
tinggi. Di atas tempat itu Ismail membaringkan dan bersiap untuik disembelih
oleh ayahnya. Namun, ketika semuanya sudah siap, Allah SWT menurunkan wahyu.
Diganti Kambing Besar.
Karena membenarkan mimpi iotu, Allah SWT membalasnya
dengan balasan yang setimpal. Allah SWT menggantinya dengan seekor sembelihan
yang besar.
Allah SWT berfirman,
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Artinya:
"Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284]
Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang
besar."
(QS. Ash-Shaaffat: 104-107).
Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai
bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.
Sesudah nyata
kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih
Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan
(kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan
pada hari raya haji.
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan sembelihan
besar adalah kambing atau domba.
Nabi Ibrahim as berhasil meraih predikat Khalilullah
(kekasihAllah) karena telah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya berupa
anak, demi mencapai kecintaan kepada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar